±23 tahun.2
Bahkan aspek bisnis
Muhammad SAW ini juga
luput
dari perhatian kebanyakan orientalis. Mungkin karena dianggap
kurang kontroversial
dan
tidak menarik
dalam perdebatan
teologis. Sebagian
merekajuga
sering
melancarkan
serangan
terhadap
pribadi
Muhammad SAW tetapi jarang sekali yang mengkaji secara mendalam prilaku bisnis beliau.
Kesuksesan Muhammad saw. Dalam melakukan kegiatan bisnisnya dilandasi oleh 2 pokok, yaitu
kepribadian yang
amanah dan terpercaya, serta pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni.
Dua hal ini poko pola yang
menjadikan nabi Yusuf mampumembangun kesejahteraan masyarakat
sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat
yusuf ayat
55 yang artinya:
“Berkata Yusuf, jadikanlah
aku bendaharawan
negara (Mesir), sesungguhnya
aku adaah
orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”.
Kedua hal pokok diatas merupakan pesan moral yang bersifat
Universal yang uraiannya sebagai
berikut:
1. Shiddiq, yaitu benar dan jujur, tidak pernah berdusta dalam melakukan berbagai macam
transaksi bisnisnya. Larangan berdusta, menipu dan mengurangi takaran timbangan, dan mempermainkan kualitas akan menyebabkan kerugian yang nyata baik di dunia mauoun di
akhirat
nanti, sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Muthaffifin ayat 1-3.
kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
Bagi pebisnis yang jujur, Rasulullah SAW memberikan sebuah kabar gembira sebagaimana dikemukakan dalam sabdanya:
“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan berdama para Nabi para shadiqin, orang-orang yang mati syahid dalam peperangan dan orang-orang yang shaleh (kelak di dalam surga). (H.R Tirmidzi)
1 Wa tt. Montogmery. 1974 .
Muhammad: Prophet & Stateman. USA: Oxford Uni vers i ty Pres s .
2 M. Sya fi i Antoni o. 2008. Muhammad SAW the Super Leader Super Manager. Ta zki a Mul ti medi a & ProLM Centre.
Sifat ini merupakan paduan antara sifat amanah dan fathanah, yang sering di terjemahkan dalam nilai-nilai bisnis
dan
manajemen
yang bertanggung
jawab, transparan, tepat
waktu,
memiliki
manajemen bervisi, manajer dan pimpinan cerdas.
3. Tabligh, yaitu mampu berkomunikasi denga baik yang juga diterjemahkan dengan bahasa
manajemen dengan istilah supel, cerdas,
deskripsi tugas, delegsi
wewenang, kerja
tim, cepat
tanggap, koordinasi, kendali, dan supervisi.
4. Istiqomah, yaitu secara konsisten menampilkan dan mengimplementasikan nilai -nilai diatas
walau
pada kenyataannya banyak
mendapat godaan dan tantangan. Hanya dengan
istiqmah dan mujahadah, peluang -peluan bisnis yang prospektif dan menguntungkan akan selalu terbuka lebar.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(al-Ankabut:
69)
Menghadirkan dan mengimplementasikan strategi bisnis Rasulullah
SAW
pada saat
sekarang
akan tetap relevan dan aktual. Sebab, prinsip-prinsip yang telah dibangun merupakan
prinsip yang
bersifat universal dan komprehensif yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, serta
individu atau agama tertentu.
Berdasarkan uraian
diatas
dapat disimpulkan bahwa
apa
yang dilakukan seseorang
didunia
akan berimplikasi terhadap kehidupannya di dunia dan di akhirat kelak. Dunia ini adalah “ladang”
dan manusia adalah “petani” yang menggarap “ladang” itu, hingga kelak di akhirat akan disemai ladang itu, oleh sebab itu menggarap ladang tersebut haruslah dilakukan deng an cara yang benar,
baik, tepat dan akurat sesuai dengan prinsip-prinsip universal yang sudah di contohkan oleh
rasul, agar kelak mendapat kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Nabi Muhammad SAW sejak dari kecil sudah di didik untuk hidup mandiri dan berwirausaha. Saat itu beliau sudah mengembala kambing di kalangan bani Sa ’ad dan juga di Makkah dengan imbalan uang
beberapa dinar, padahal beliau hidup
ditenga h
keluarga
yang berkecukupan.
Keluarga
ayahnya adalah pembesar suku Quraisy. Namun beliau telah menunjukan kepada kita karakter kepemimpinan yang telah dibina sejak kecil.
Perkataan
jujur
Muhammad SAW, kredibilitasnya dan
kemuliaan
akhlak
mulianya, serta
mengedepankan etika
bisnis Islami, dengan cara
menjauhi dan menghindari kezaliman, riba, berbuat curang, penipuan, gharar dan ghabn sudah menunjukan kepada kita bagaimana caranya
menciptakan
dan membangun brand image positif bahkan sebelum beliau menjadi seorang nabi dan Rasul. Saat brand image seseorang terbangun
dengan positif, maka pada saaat berbisnis pun
orang percaya kepada kita, dan prinsip shiddiq, amanah, fathanah, tabligh, serta istiqomah adalah
elaborasi dari ketauhidan yang lurus, akhlak yang mulia, dan syariat
yang benar.